Skip to content

Yayasan Umar Kayam

Loading...

Berita 2

Berita 3

Berita 4

Berita 5

Berita

 
Mengakses internet sambil makan gorengan, sate usus, bertukar cerita atau wacana: ANGKRINGAN YUK menyediakan semua.

 
Selasa, 07 September 2010 Increase font size  Decrease font size  Default font size 
Anda berada di:    Beranda arrow Berita arrow MEREGUK KERINDUAN PADA SOSOK UMAR KAYAM

Pengunjung ke:

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
MEREGUK KERINDUAN PADA SOSOK UMAR KAYAM
Oleh: BENITO RIO AVIANTO, Mahasiswa Magister Ekonomika Pembangunan, Universitas Gadjah Mada   
Sejak pertemuan pada tahun 1993 lewat “Mangan Ora Mangan Kumpul”, sebuah masterpiece karya  Prof. Umar Kayam, Ph.D (UK), saya tidak pernah mengira bahwa pada hari ini Rabu, 22 Juli 2009, kerinduan pada sosok Umar Kayam cukup terobati.  Kerinduan yang terpendam selama enam belas tahun.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta dengan hiruk pikuk manusianya, kesempatan melanjutkan ke Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mempunyai dua arti penting  untuk saya.  Pertama, saya berkesempatan melanjutkan kuliah di Kampus Perjuangan dan Kerakyatan yang sekarang telah mencapai status sebagai World Class Reseach University, sekaligus menjadi warga republiken nasional, demikian meminjam istilah Bu Yus Kayam. Kedua, karena UGM mempunyai Umar Kayam, sosok yang saya rindukan dan kangeni. Kerinduan ini disebabkan karena begitu hidupnya tokoh-tokoh yang ada dalam Mangan Ora mangan Kumpul seperti Pak Ageng, Mr. Rigen, Pak Joyoboyo, Prof. Dr. Ir. Lemahamba, M. Sc, Med, Ms. Nansiyem, dan Beni Prakosa, membangkitan hasrat ingin bertemu dengan tokoh-tokoh tersebut.

Kerinduan akan sosok UK itulah yang mendorong saya melakukan penelusuran sejarah pada hari ini.  Padahal saat ini saya sedang dilanda keruwetan menyelesaikan tesis yang sudah dikejar-kejar deadline. Terlebih lagi, beasiswa askelerasi BAPPENAS untuk kuliah di UGM hanya berjangka 13 bulan sehingga membuat hari-hari di Jogjakarta terasa sangat terbatas. Tetapi pagi itu, ilham menelusuri jejak sejarah (tracer history) UK datang datang begitu kuat hingga saya putuskan untuk memulai historical adventure ini.  Saya keluarkan sepeda motor dari rumah kontrakan di Godean menuju Bulaksumur B12, ke Kraton Pak Ageng, padahal agenda semula hari ni adalah mencari data untuk tesis.

Berdebar-debar hati  ini selama dalam perjalanan menuju Kraton Pak Ageng, membayangkan kediaman UK  yang menjadi lokasi dalam Mangan Ora Mangan Kumpul .  Sekitar 30 menit, sampailah saya di Bulaksumur B12.  Agak terkejut saya melihat Kraton Pak Ageng yang sekarang menjadi Pusat Studi Jepang, Universitas Gadjah Mada (PSJ-UGM) dalam kondisi kurang terawat.  Besi pagar depan yang sudah lepas dari cor semen, serta halaman dengan tanaman yang tidak terurus menjadi wajah Bulaksumur B12 sekarang.  Dalam hati, saya bertanya “Di mana tanaman penolak bala seperti yang dikatakan Mr. Rigen?”  Sayapun masuk ke dalam kediaman Pak Kayam, ke ruang tamu, ke kamar kecil, ke ruang makan, ke halaman samping, ke depan garasi yang dikunci dengan gembok berkarat (mungkin peninggalan Pak Ageng ya?).  Jadi inikah rumah yang menjadi saksi sejarah kehidupan Pak Ageng? Demikian saya bertanya kepada diri sendiri. Ah…, andai pak Ageng masih di sini.







Foto: Bulaksumur B12, Kraton Pak Ageng.  Sekarang menjadi Pusat Studi Jepang-Universitas Gadjah Mada.





Penelusuran saya lanjutkan ke Bulaksumur E12 tempat kantor Pak Ageng  yang dulu digunakan sebagai Pusat Penelitian Kebudayaan UGM.  Sekarang, bangunan ini dipergunakan sebagai Pusat Kajian Hukum, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.  Dalam hati saya bergungam “Oh jadi inilah tempat kuliah informal budayawan besar macam Emha Ainun Najib, Linus Suryadi, Butet Kertarajasa, dll”.  Pak Ageng, you are trully genuine having  your own method to born many artists.

Ternyata kantor Pak Ageng sudah pindah ke Sekip Utara, dekat Fakultas Kedokteran UGM dan berganti nama menjadi Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (PSK-UGM).  Tujuan saya datang ke PSK-UGM adalah ingin melihat koleksi buku-buku karangan Pak Kayam. Tetapi sayang, saya tidak dapat menjumpainya.  Beruntung saya bertemu Pak Supardi, mantan Supir Dinas Pak Kayam.  Pak Supardi menyarankan agar saya pergi ke Yayasan Umar Kayam (YUK) di Perumahan Dosen UGM Sawit Sari, Jalan Kaliurang untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.  Mumpung masih pagi, tracer history  saya lanjutkan ke YUK.

Perjalanan ke YUK di Sawit Sari memakan waktu sekitar lima belas menit. Akhirnya saya sampai di YUK.  A comfort and nice place, itulah kesan yang saya dapat di YUK.  Dilihat dari desain arsitektur, pemilihan material dan warna bangunan, saya merasa bangunan YUK cocok dengan gambaran pribadi Pak Ageng yang hangat dan ngangeni itu.  Di sana saya berjumpa dengan Mas Kusen (Direktur YUK) dan Pak Sabar, dua orang yang banyak memberikan informasi sisi-sisi pribadi Pak Ageng yang tidak saya ketahui beserta klangenannya.  Klangenenan ala Jogja seperti yang d ucapankan Mas Kusen, Yogya is a small village.  You will know what’s going on then you want to come. Ah…klangenan ala Jogja yang pengin juga saya cicipi.   

Hal yang sangat membahagiakan adalah saya dapat melihat dan memegang benda-benda memorabilia Pak Ageng.  Ada kursi goyang Pak Ageng yang menjadi simbol YUK, meja kerja, dan koleksi buku-buku Pak Ageng.  Di meja kerja Pak Ageng saya membayangkan saat beliau dengan khusyuk mengetik berbagai tulisannya itu.

Selanjutnya, saya ke ruang perpustakaan melusuri buku-buku koleksi Pak Ageng.  Luar biasa melihat koleksi buku Pak Ageng yang cukup lengkap mengenai khazanah kebudayaan dan novel. Saya juga dapat melihat karya-karya Pak Ageng seperti Para Priyayi, Sri Sumarah, Jalan Menikung, Lebaran di Karet di Karet, Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Bondho, dan Satrio Piningit di Kampung Pingit.  Meski baru melihat covernya, tetapi saya merasa baru saja melepas rindu dengan Pak Ageng.  Ah… rasanya ingin sekali segera menyelesaikan tesis saya agar segera dapat meneruskan membaca dan menikmati karya-karya Pak Ageng. 

Lewat tullisan sederhana ini, saya ingin berbagi kenangan dan romantisme Pak Ageng kepada pembaca UK lainnya sebagai penikmat karya-karya Beliau.  Saya yakin banyak pembaca UK yang penasaran ingin mengetahui bagaimana  suasana, setting, benda-benda, serta  kondisi Bulaksumur seperti yang ada dalam tulisan beliau.

Terima kasih Pak Ageng, karya-karyamu telah memberi tetesan kesejukan dan sense of humor di kala kepenatan dan rutinitas menjebak dalam keseharian.  Lewat karyamu, saya dapat menikmati hidup sebagai keturunan Jawa dan bahagia menjadi orang Indonesia, bangsa yang memiliki budaya sangat  beragam.  Saya juga dapat merasakan bahwa kebudayaan dan kesenian adalah penyeimbang dan gizi bagi otak kanan, saat otak kiri terus menerus bekerja memahami rumus matematika dan penghitungan ekonomi yang selalu didasarkan untung dan rugi.  Selamat jalan Pak Ageng, semoga amal baktimu diterima oleh Allah SWT.

Godean, 22 Juli 2009, Pk. 23.40.
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
 

 
Selanjutnya >