Skip to content

Yayasan Umar Kayam

Loading...

Berita 2

Berita 3

Berita 4

Berita 5

Berita

 
Mengakses internet sambil makan gorengan, sate usus, bertukar cerita atau wacana: ANGKRINGAN YUK menyediakan semua.

 
Selasa, 07 September 2010 Increase font size  Decrease font size  Default font size 
Anda berada di:    Beranda arrow Berita arrow LAWAKAN KINI, LUCU, LAKU MINUS KRITIS

Pengunjung ke:

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
LAWAKAN KINI, LUCU, LAKU MINUS KRITIS
Oleh: Administrator   
Dekade terakhir, humor berada di posisi yang tidak begitu baik.

Tayangan humor di televisi saat ini, hanyalah banyolan semata tanpa isi. Bertempat di Padepokan Bagong Kussudiardja, Darminto M Sudarmo, Eko Bebek, Yu Milko Sri Mulyati memberi kuliah umum dalam acara bertajuk Lawak Indonesia Mau Ke Mana? Sabtu (27/6) kemarin.

Acara bertema 'Quo Vadis Lawak Indonesia’ yang digelar Yayasan Umar Kayam bekerja sama dengan Jojoncenter Dokumentasi Komedi Indonesia (JDKI), Hivos dan Padepokan Bagong Kussudiarjo berupa kuliah umum, workshop, dan presentasi lawak mulai dari 27 – 29 Juni 2009. Acara ini bertujuan untuk memetakan kembali arah tujuan seni komedi di tanah air dan mendorong para seniman komedi untuk tetap berkarya dan meningkatkan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat: lucu, laku, namun juga kritis!

Di Indonesia, humor telah menjadi bagian dari keseharian. Humor juga sering dijadikan saluran untuk berekspresi dan berkreasi. Cerita-cerita yang diangkat oleh ludruk (Jawa Timur), Dagelan  Mataram (Jogja) dan Lenong (Betawi) sering menggambarkan situasi kehidupan sosial masyarakat yang sering juga berperan sebagai rekaman sosial. Selain ekspresi masyarakat yang tertindas, humor juga menjadi sarana menyampaikan keluhan dan kritik oleh para seniman lawak pada penguasa. Tentu tidak semua pihak dapat menerima kritik meski disampaikan dengan humor.

Anang “Batas” Dwiyatmoko yang bertindak sebagai moderator mengatakan kemunculan pelawak yang terlihat di televisi seolah tak pernah berganti. Setiap acara lawak yang tampil di berbagai stasiun televisi, pelawak yang muncul tak pernah ganti. “Mereka tampil di setiap acara televisi. Dengan materi lawakan yang tidak berbeda pula. Di sini kita tuangkan bagaimana dan kemana sih lawak kita mau dibawa,” ucap MC dan pelawak Jogja itu.

Ada perbedaan isi dan konsep dari generasi lawak lalu. Milko yang tak fasih berbahasa Indonesia ini mengakui jika pada masanya, lawakan tak sekadar membuat orang tertawa. Materi lawakan tetap ada pitutur sehingga saat orang diingatkan sesuatu yang baik, orang tersebut tidak merasa diingatkan karena dikemas dalam kelucuan.

Pada acara yang penuh suasana gayeng itu, Milko bercerita tentang kisah hidupnya di dunia melawak. Anang Batas selaku moderator mendapat tugas tambahan menerjemahkan bahasa Jawa Milko ke bahasa Indonesia. Karena, diskusi dan kuliah umum ini juga diikuti pelawak dari Bandung, Bali, Papua, dan Makassar.

“Saya ikut ketoprak mulai umur sembilan tahun, sekarang saya sudah enam puluh satu tahun. Dari dulu tidak bisa baca tulis, kok dibawa ke sini,” ujar Yu Milko, yang dijawab oleh Anang dengan banyolan.

“Lawak saat ini tidak seperti dulu. Aku ora seneng ndelok lawak saiki (saya tidak suka dengan lawak yang sekarang),” lanjutnya. Baginya, lawak masa kini tidak memiliki cirri khas tersendiri, hampir semua lawak sama saja, baik itu gayanya, banyolannya dan tidak memiliki makna. “Kalau dulu, humornya komplit, sekarang semua pakai naskah, jadi tergantung naskah. Sekarang, semua gaya lawakan hampir sama, gaya yang kebanci-bancian dan lain-lain, dan saya tidak suka.”  Sambungnya.

Bagi Yu Milko modal melawak itu hanya badan, keterampilan berbicara, ekspresi dan wajah. Jika tidak ada salah satunya, bisa menonjolkan yang lainnya. “Aku ora tau kerasa nek aku ki pelawak, tapi wong-wong do ngguyu ki (saya tidak pernah merasa diri sebagai pelawak, tetapi orang-orang selalu tertawa melihat penampilan saya).”

Jika Milko bercerita tentang riwayat hidupnya, Eko Bebek bercerita tentang riwayat pertunjukkan humor yang digarapnya bersama event organizernya, IDEA Production.
“Humor tidak hanya sekedar apa yang ditampilkan di panggung, tetapi pada prosesnya harus serius dan penuh persiapan. Mulai dari pemilihan tempat pentas, dana dan konsep humor itu sendiri,” ujar Eko sambil menunjuk layar putih yang memunculkan contoh-contoh bentuk tiket, flyer dan buku yang telah dibuatnya.

“Bahkan ini adalah bentuk tiket terunik, seperti ijasah, lengkap dengan nama dan nilai-nilanya. Agar apa yang telah kami buat bisa dikenang oleh para penontonnya, tidak hanya ceritanya saja.” ujarnya sambil memperlihatkan tiket pertunjukan humor Super Ngakak Total tahun 2004 silam.

Pelawak dan seniman senior Jogja tampak dalam acara yang rencananya alan digelar tahunan itu. Seperti Marwoto Kawer, Marsidah, Bondan Nusantara, Wisben, Djaduk Ferianto, dan Butet Kertaredjasa. (ayu/cw3)

(Sumber: Radar Jogja, Minggu, 28 Juni 2009)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >