| Kirim Artikel |
| YUK Mobile |
| Kabar YUK |
| DARI KOPI SUSU HINGGA COKLAT |
| Oleh: Andy Eswe | |
|
Sejak pertemuan awal Festival Teater Jogja (27/04/09) yang dihadiri 19 Grup teater dan penyelenggara festival, saya mulai gelisah sendiri. Entah gelisah perihal apa, saya tidak begitu paham? Yang ada dalam benak saya hanya kopi susu. Sama sekali tak ada hubungannya dengan teater. Itulah mengapa saya jadi merasa sendiri dalam pertemuan itu. Saya ingin menghapus kopi susu dari benak saya tapi tidak bisa. Kadang saya usil ngajak ngobrol Bu Nunung dari teater Amarta Bantul, Cekikikan melihat Mas Indra Tranggana yang kurang nyaman duduk di kursi akibat tubuhnya yang sulit beradaptasi dengan wadah pantat itu, dan kemudian memutuskan berpindah-pindah tempat agar lebih membantu menghilangkan bayangan tentang kopi susu. Sungguh, saya tak konsentrasi dalam pertemuan itu. Ingin rasanya segera pulang ke sanggar, membuat kopi susu dan menggagas peristiwa teater. Peristiwa kecil-kecilan saja, tapi seru dan menyenangkan. Dimanapun. Kapanpun. Sesampai di sanggar, tiba-tiba saya menjadi malas. Ah saya ini…, gampang terpengaruh suasana. Kadang saya hanya ingin Nggaya, membayangkan seperti Peter Brook di bulan Desember tahun 1972 yang melakukan perjalanan ke Afrika, bersama rombongan yang berjumlah 30 orang, yang terdiri dari aktor dan teknisi. Membuat peristiwa-peristiwa kecil dari desa ke desa. Hahaha…atau membayangkan hidup dalam kelompok Ketoprak Tobong yang lebih terasa asyik, tanpa beban eksperimen, penelitian, dan laporan buat yang mensponsori seperti kelompoknya Peter Brook. Yah…, pada akhirnya saya kembali ke diri sendiri yang membuat teater dengan cara sendiri dan gaya sendiri. Entah darimana datangnya, tiba-tiba saya merasa tak ada teater yang sudah besar dan masih kecil, semua menjadi tampak biasa dan sederhana. Banyaknya penonton dan hingar-bingar liputan media massa tak selamanya istimewa. Teater bukan apa-apa tetapi segalanya. Cihuy… Setelah pertemuan awal itu, saya sering pergi ke Yayasan Umar Kayam (YUK), Ngantor tepatnya. Saya bertemu dengan Anggit, Putri, Faiz, dan Pak Sabar. Saya punya teman-teman baru. Ah, tapi saya bekerja di sana satu tim dengan Kusen dan Vindra. Nah, mulailah saya bekerja dengan Vindra yang menggemaskan: tubuhnya tambun dan…kalau di film pantasnya jadi bandit gitu deh…bersama Vindra, saya mulai menggagas program kerja Festival Teater Jogja. Cihuy-cihuy…ada Workshop, Arisan Titer, dan membuat studio. Di depan komputer duduk berdua sama Vindra, kayak pacaran. Wah-wah…gimana ya jadinya? Sampai suatu ketika, tepat di hari jumat, tanggal 15 Mei 2009, cuaca mendung. Berangkat ke YUK, mampir Super Market beli coklat buat modal PDKT malam minggu besok (haha..jadul banget). Sesampai di YUK, Aku, Vindra, dan Kusen ngobrol ngalor ngidul perihal jobdes FTJ. Dan tiba-tiba klap klap! Jduer GLARRR!!! Suara halilintar membuat tratapan plus panik! Dan sejak saat itu, aku tak mencari konsentrasi, lantas ku keluarkan sebatang coklat, mulai membayangkan peristiwa yang kan terjadi. Peristiwa yang keluar dari sebatang coklat. Job Discription terus mengalir seiring peristiwa dari Si Coklat. Hujan sudah mereda. Obrolan selesai. Peristiwa dari si Coklat juga selesai. Aku pulang sambil membayangkan proses teater rasa coklat… Oupz! Coklatku masih tertinggal di atas meja pertemuan. Duh…bagaimana dengan malam mingguku? |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|