Skip to content

Yayasan Umar Kayam

Loading...

Berita 2

Berita 3

Berita 4

Berita 5

Berita

 
Mengakses internet sambil makan gorengan, sate usus, bertukar cerita atau wacana: ANGKRINGAN YUK menyediakan semua.

 
Sabtu, 04 September 2010 Increase font size  Decrease font size  Default font size 
Anda berada di:    Beranda arrow Berita arrow SURABAYA: BERJANJI DENGAN KAT

Pengunjung ke:

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
SURABAYA: BERJANJI DENGAN KAT
Oleh: Kris Budiman   
(Catatan Perjalanan FGD Program Sastra Paska Orde Baru di Surabaya)

Kathleen Azali sedang membersihkan pelataran ketika kami datang pagi itu, 13 Januari 2009. Kami memang sudah berjanji dengan Kat, demikian panggilan akrab Kathleen, untuk meminjam ruang perpustakaannya dan menggelar sebuah diskusi kelompok terfokus (FGD, focused group discusion) untuk menjaring tanggapan pembaca tentang sastra pasca-Orba. Dia menyambut kami dengan seberkas senyum secerah pagi. Kafe-perpustakaan plus sinematek yang terletak di Jl. Dr. Cipto 20, Surabaya, ini diberi nama C2O oleh Kat. Dilihat dari depan, gedung tanpa papan nama sama sekali ini hanya dapat dikenali lewat pintu gerbangnya yang khas dengan lukisan warna-warni bergaya manga.
Di dalam telah menunggu Windy, Tri, dan Putri, tiga orang peserta FGD. Windy masih berstatus mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta meskipun sudah bekerja sebagai seorang penyiar radio. Tri adalah seorang wartawan, sedangkan Putri seorang peneliti media. Beberapa menit kemudian Dani, dosen di sebuah universitas di Mojokerto, menyusul sehingga total jumlah peserta sudah empat orang. Jadi, kami tinggal menunggu seorang lagi, yaitu Paksi. Guru privat bahasa Inggris ini tidak tahu persis lokasi C2O. Dengan sepeda motornya dia berkeliling mencari-cari alamat kami. Setelah bersusah-payah, sementara kami terus mencoba mengontak telepon genggamnya tanpa hasil, sampai jugalah dia di alamat yang dituju.

FGD baru bisa dimulai sekitar pukul 10, satu jam lebih lambat dari rencana semula. Tak mengapa. Saya pun memperkenalkan diri dan Yayasan Umar Kayam, menyampaikan maksud dan tujuan penyelenggaraan FGD ini, lalu disusul dengan para peserta yang saling berkenalan. Setelah serba-neka kudapan dan minuman tergelar dengan meriah di arena lesehan, diskusi pun mulai memasuki fase yang paling “panas”, yakni saling berbagi opini dan komentar tentang karya-karya sastra di masa Orba dan pasca-Orba. Satu persatu para peserta mengemukakan gagasan dan penilaiannya. Peserta yang lain diajak untuk saling menanggapi. Saya lebih banyak berperan sebagai moderator, meskipun cukup sulit untuk menjadi netral, dan Titien –asisten peneliti lokal saya– berperan sebagai notulis sekaligus juru kamera yang cekatan.

“Saya paling suka sama Satria Piningit ing Kampung Pingit,” ujar Putri. Dia mendudukkan kumpulan kolom Umar Kayam ini sebagai salah satu karya sastra yang paling bermakna di dalam hidupnya, di samping beberapa karya yang lain. “Saya sekarang kurang  membaca karya-karya sastra mutakhir karena lingkungan saya yang lebih banyak berurusan dengan media, tapi saat ini saya ingin membaca Bilangan Fu, meskipun belum kesampaian.”

“Sindhunata adalah pengarang favorit saya,” Windy menimpali, “karena gaya menulis Sindhunata halus dan sangat detail.”

“Karya Romo Sindhu yang kamu suka judulnya apa?” tanya saya.

Ternyata Windy tidak ingat. Teman-teman peserta FGD yang lain mencoba membantu dengan cara memancing-mancing ingatannya. Setelah harus berpikir agak lama, dia pun menyerah sambil tertawa, “..., saya lupa judulnya apa. Hihi....”

Karena sudah hampir dua jam berjalan dan saya merasa telah cukup memperoleh data, FGD pun ditutup. Namun demikian, saya masih meminta para peserta untuk mengisi selembar angket kecil dan membuat sinopsis dari dua petikan novel Saman (Ayu Utami) dan Olenka (Budi Darma) secara tertulis. Pada detik-detik itulah Kathleen, sang puan rumah, muncul dengan serangkaian menu makan siang plus buah apel manalagi yang segar. Detik-detik yang sungguh tepat, pikir saya. Maka, kami –saya, Titien, dan kelima peserta FGD– pun bersantap bersama sambil mengerjakan tugasnya masing-masing. Windy, Tri, dan Dani asyik mengisi angket dan membuat sinopsis berlesehan di atas matras warna-warni. Putri duduk di sofa empuk sambil mengunyah ayam goreng, sementara Paksi tampak terlalu serius mengerjakan PR-nya di meja baca perpustakaan.

Sudah jam tiga sore. Tidak terasa jalannya waktu. Pundi, seorang mahasiswa gaek dari Antropologi Unair yang akan mengantarkan kami berwisata malam, sudah datang menjemput. Para peserta pun satu demi satu berpamitan setelah selesai dengan “urusan administratif” dan tetek-bengek lainnya. Dan Titien rupanya harus segera pulang untuk mengelola rumah-tangganya yang telah terbengkalai seharian. Maka, tinggallah kini dua pasang manusia kesepian: saya, Kat, Putri, dan Pundi. Kami berempat bersepakat untuk melewati senja dengan napak-tilas ke Klenteng Mbah Ratu dan menghabiskan malam dengan makan tahu petis dan nongkrong di sebuah kafe yang kul.

Siapa bilang Surabaya itu gerah dan tidak menarik? Sebab sejak malam di kafe itu Surabaya so tasty bagiku.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >