| Kirim Artikel |
| YUK Mobile |
| Kabar YUK |
| BERBAGI “ESTETIKA” DENGAN MAHASISWA UNAIR |
| Oleh: Margaetha Yolina Dian Anggita | |
|
“Direktur kok pakai celana pendek” ujar Sholahudin (Direktur JOJONCENTER) menyela ketika acara perkenalan dimulai oleh Kusen Ali (Direktur Yayasan Umar Kayam). Siang itu, Selasa, 13 Januari 2009 pukul 12.30 WIB, bertempat di salah satu ruang Yayasan Umar Kayam (YUK), kami menerima kehadiran rombongan Jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga yang terdiri dari 13 mahasiswa dan 2 dosen. Di samping sebagai acara silaturohmi, kunjungan tersebut juga digunakan sebagai Kuliah Lapangan perihal “estetika”.
Suasana dimulai agak kaku pada awalnya, namun menjadi “cair” karena lelucon yang saling dilontarkan. Seperti ketika Difana, salah seorang mahasiswi berkata “Maaf…acara perkenalan cukup setengah jam saja sebab kami berencana ke Candi Prambanan pukul 15.00 WIB,” dan Vindra, salah satu staf di Yayasan Umar Kayam, menyahut “Setiap Hari Selasa, Candi Prambanan tutup Mbak…?”, maka seluruh yang hadirpun tertawa. Seperti itulah kondisi yang terbangun ketika itu: serius tapi santai. Setelah penjelasan menyeluruh berkaitan tentang sejarah berdirinya YUK, lembaga-lembaga rekanan, kemudian penjelasan beralih mengenai program kerja yang sedang dilaksanakan. Lalu berbagi pengetahuan tentang “estetika”pun disampaikan melalui pengalaman Vindra yang telah kenyang makan asam-garam pengerjaan berbagai panggung pertunjukan di Yogyakarta. “Disain panggung bermula dari ide estetik seorang sutradara pertunjukan, seniman tata letak, atau siapapun yang bertanggungjawab pada tampilan pertunjukan. Dari sana, kami mulai mengejawantahkannya. Kami bekerja dengan banyak bidang dalam mengejawantahkan ide “estetik” tersebut. Mulai dari ahli listrik, tukang kayu, tukang cat,…, hingga penjahit kain.” “Kadang-kadang, keterbatasan biaya malah memacu kami menemukan cara-cara pengejawantahan ide “estetik” yang alternatif”, begitu Vindra menambahkan. “Apakah Anda masih tertawa ketika menonton Lawak di Televisi?”, pertanyaan mahasiswa yang lain mengalihkan tema “pemanggungan” ke tema “lawak”. Menurut Sholahudin, perkembangan lawak saat ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri pertelevisian di Indonesia. Sehingga Lawak dianggap sebagai komoditi, sebagaimana acara-acara lain di televisi. Jika tidak menawarkan keuntungan ekonomi maka akan menyingkir dengan sendirinya. Celakanya, industri televisi hanya menginginkan lawakan yang mem”banyol” semata. Jika “banyol”an tersebut laku, maka para pelawak (dan tim kreatifnya) diperas habis-habisan untuk memenuhi kehausan pemirsa. Lalu dalam keadaan seperti ini, siapa yang bisa menjamin lawakan bisa lebih bermutu? Maka dengan hati-hati, Sholahudin menjawab pertanyaan mahasiswa itu dengan “Harus saya akui, lama-lama, saya bosan juga dengan lawakan di televisi….”. Kemudian diskusipun berlanjut dalam suasana yang menyenangkan. Obrolanpun berkembang, mulai dari membanding-bandingkan suasana “kreatif” di Surabaya dan Yogyakarta; harga jasa mencuci di Surabaya dan Yogya; bahkan suhu udara di kedua daerah tersebut. Metode kuliah semacam ini memang menggairahkan. Mahasiswa tidak sekedar mengenal teori, namun juga mengenali suka-duka penegejawantahannya oleh para praktisi. Apalagi, Yogyakarta adalah kota wisata. Di samping belajar, tentu bisa cuci mata dan belanja-belanji. |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|