| Kirim Artikel |
| YUK Mobile |
| Kabar YUK |
| Sastra Paska Orde Baru, Sastra Perlawanan |
| Oleh: Administrator | |
|
Sastrawan Seno Gumira Ajidarma pernah mempopulerkan sebuah diktum: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Demikian ungkap Ayu Utami, pengarang novel Saman, Larung, dan yang terakhir Bilangan Fu, ketika mengawali paparannya tentang perkembangan sastra pasca-Orde Baru pada sebuah diskusi Rabu malam (27/08), di halaman kantor Yayasan Umar Kayam (YUK), Yogyakarta.
Lebih dari seratus peserta dari berbagai kalangan di Yogyakarta memadati acara ini, antara lain dari komunitas Tanda Baca, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Universitas Atma Jaya, Universitas Sanata Dharma, serta kru Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM). Selain Ayu Utami, diskusi bertajuk “Sastra Indonesia Pasca-Orde Baru” itu juga menghadirkan Dr. Aris Arif Mundayat, Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT-UGM) sebagai penelaah konteks sosial munculnya karya sastra. Sebuah karya sastra tak dapat dilepaskan dari konteks sosial di mana ia dilahirkan. “Sastra hadir sebagai bentuk penyikapan terhadap kehidupan sehari-hari, dan tak jarang sastra muncul sebagai perlawanan terhadap keadaan. Sastra perlawanan inilah yang populer dalam era pasca-Orde Baru,” ujar Ayu. “Ketika jaman Orde Baru, kebebasan dibatasi, segalanya dikontrol oleh militer. Keadaan ini memunculkan tekad untuk melawan. Novel Saman hadir sebagai reaksi atas keterkungkungan pada masa itu,” jelasnya lebih lanjut. Novel Saman yang terbit tahun 1998 memang cukup menyentak kalangan penikmat sastra. Karya ini dianggap mengelaborasi gaya penceritaan baru dan secara gamblang mengekplorasi seksualitas tanpa malu-malu. “Secara implisit, dalam Saman saya mencoba melepaskan kata-kata dari kungkungan moralitasnya. Jadi, bagaimana mengungkapkan kata-kata, termasuk tema seksualitas, dengan apa adanya. Saman juga mencoba keluar dari cara bercerita yang linier,“ tegas Ayu. Tetapi Ayu Utami buru-buru mengatakan, novelnya yang baru saja terbit, Bilangan Fu, mencoba keluar dari cara bercerita ala Saman. “Saya merindukan cara bercerita yang sederhana, sedikit meninggalkan akrobat kata-kata,” katanya. Novel Saman memang memantik kemunculan karya-karya sastra dengan eksplorasi tema seksualitas yang vulgar selama hampir sepuluh tahun terakhir. Kondisi saat ini tentu saja berbeda. Booming novel macam Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi, menurut Ayu, tak lepas dari kerinduan masyarakat terhadap nilai-nilai optimisme. Selama reformasi, kehidupan masyarakat dirundung oleh ketidakpastian, sehingga muncul keinginan untuk memperoleh kepastian. “Masyarakat tidak hanya membutuhkan dekonstruksi, tetapi juga konstruksi,” simpulnya. Dari konteks sosial yang melingkupi lahirnya sebuah karya sastra, Aris Arif Mundayat berpendapat bahwa setiap jaman mempunyai caranya sendiri dalam ‘mengentalkan‘ kelahiran karya sastra. Tema perlawanan dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer, begitu pula novel Saman karya Ayu Utami, tak bisa lepas dari konteks zamannya. “Setiap generasi memiliki caranya sendiri dalam memproyeksikan perlawanan. Pramoedya melakukan perlawanan terhadap penindasan kemanusiaan, sementara Ayu melakukan perlawanan terhadap kungkungan moralitas,” jelasnya. Dalam pandangan Aris, meskipun kontrol negara mulai menurun, namun yang terjadi saat ini adalah ‘privatisasi‘ kontrol yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Sehingga, perlawanan sastra pun juga kian beragam, tidak lagi menyangkut satu tema: perlawanan terhadap negara. Lalu, setelah Orde Baru runtuh dan jurnalisme menemukan kembali kebebasannya, apa lagi yang harus dilawan? Dalam suasana yang makin terbuka seperti saat ini, menurut Ayu, karya sastra tetap dapat menyuarakan perlawanan terhadap apapun. Ayu mencontohkan, dalam naskah teater berjudul Sidang Susila misalnya, dirinya mencoba mengkritik kejumudan berpikir para agamawan yang memandang kaku terhadap masalah-masalah sosial. “Akhirnya kritik dan perlawanan sastra tidak lagi hanya terpusat pada negara, melainkan pada musuh-musuh kemanusiaan,” tukasnya. Aspek lain yang juga disoroti oleh Aris adalah perkembangan dunia sastra yang bergantung pada dukungan industri modern. Menurut Aris, meskipun banyak orang tidak menyukai perkembangan kapitalisme, toh banyak di antara kita yang terbiasa untuk memanfaatkannya. Aris lalu mencontohkan menjamurnya dunia penerbitan di Indonesia yang memfasilitasi para sastrawan untuk berkarya. Begitu pula teknologi internet, yang menyediakan ruang berupa web, blog, maupun situs-situs sastra lainnya yang dapat menampung gairah para penikmat sastra, bahkan yang ‘amatiran‘ sekalipun. “Kondisi ini mendorong para penulis untuk berlomba-lomba menelurkan karyanya, meskipun hanya berupa buku harian dalam blog,” pungkasnya. (Lukman Solihin/brt/18/08-08) Sumber (MelayuOnline.com) |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|