|
Oleh: Indra Tranggono
|
|
Menciptakan naskah drama, tidak dapat hanya berangkat dari ruang kosong alias mengandalkan kayalan, ilham dan lainnya. Meskipun bagian dari fiksi, naskah drama merupakan dunia penciptaan yang disangga oleh data, fakta sosial, logika dan imajinasi. Yang dimaksud data adalah bahan-bahan yang dikisahkan. Fakta sosial adalah kenyataan yang tumbuh dan hidup di masyarakat yang dapat dikenali, dirasakan dan dihayati. Logika adalah jalan pikiran yang dapat diikuti dan dirunut sebab-akibatnya. Sedangkan imajinasi adalah daya fantasi yang menjandikan sebuah karya memiliki jarak estetis dengan realitas, atau karya itu menjelma menjadi jagat estetis, sebuah dunia kemungkinan yang sarat dengan keindahan.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
PINANGAN ORANG LADANG DAN NEOKONSERVATISME |
|
Oleh: Fadli Akbar, wartawan freelance dan penggiat sastra. Berdomisili di Padang.
|
|
Ada yang menggelitik dari kumpulan puisi ”Pinangan Orang ladang” ( Framepublishing, 2009) karya Esha Tegar Putra. Ia adalah sebuah kumpulan puisi dengan teks-teks yang sangat bersahabat dengan instrumen alam, sangat menonjol secara naturalis. Ia bahkan terkesan menyanjungnya. Ada kayu, angin, lembah, air, cadas, tanjung, rumpun bambu, aur, kumbang, dan tentu saja ladang. Inilah kumpulan kata-kata yang jauh dari bisingan kota, deru mobil dan asap pabrik. Semuanya sangat menyejukkan, asri, mendayu, namun pada titik lain tak kalah menyeramkan.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
FTJ, GAGASAN YANG TERUS DISIRAMI |
|
Oleh: Andy Sri Wahyudi
|
|
Yogyakarta pernah menjadi semacam "kawah candradimuka" bagi para penggiat seni teater tahun 1960 sampai 1980-an hingga melahirkan tokoh-tokoh seperti WS Rendra, Putu Wijaya, Mohamad Diponegoro, Emha Ainun Nadjib, dan Butet Kartaredjasa. Tahun 1980-an di Yogyakarta pernah bermunculan kelompok-kelompok teater, yang secara intensif mengadakan "arisan teater". Budayawan kita, Umar Kayam, pernah menggagas adanya "Galatama Teater" di Yogya.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
CATATAN SEKILAS CINTA YANG MARAH |
|
Oleh: TS. Pinang
|
|
Kumpulan 21 sajak Aan ini menawarkan tantangan yang cukup serius bagi pembaca. Bukan hanya dari judul sajak-sajaknya (yang dia sebut „kepala“ itu) yang panjang, tetapi juga untuk mengurai (dengan kepala) atau meresapi (dengan dada) keseluruhan rangkaian ini sebagai satu untai gagasan.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
SEPASANG SEPATU SENDIRI DALAM HUJAN |
|
Oleh: Gunawan Maryanto
|
|
Berhadapan dengan 105 puisi dalam buku “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” ini bukanlah perkara yang mudah bagi saya. Karena pada dasarnya saya tidak hanya berhadap-hadapan dengan mereka, tetapi juga 105 dunia yang mereka simpan, yang mereka peram diam-diam—dan kita tahu apa yang disimpan selalu jauh lebih mengerikan daripada apa yang diperlihatkan. Bukan hanya tak mudah terus terang, tapi juga melelahkan, sebab 105 dunia itu tak seragam. Mereka begitu beragam. Satu atau dua mungkin mudah ditaklukkan, selebihnya saya harus berpayah-payah melewatinya, atau kemudian memilih menyerah. Beberapa puisi membuat saya ingin berhenti lama-lama untuk menikmatinya, beberapa puisi membuat saya ingin buru-buru meninggalkannya. Dan akhirnya saya berhasil menyelesaikannya, menutup halaman 118 dengan sebuah kelegaan yang luar biasa. Dan sekarang saya akan mencoba membagi pengalaman saya tersebut. Tentu saja tidak semuanya bisa saya bagi. Waktu kita begitu singkat. Selain itu ada banyak yang belum selesai saya rumuskan dalam kepala—maka biarkanlah tetap menjadi pengalaman saya seorang diri.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
WARRIOR: CURHAT ARIE SAPTAJI |
|
Oleh: Anindita S. Thayf
|
|
Warrior: Sepatu Untuk Sahabat (WSUS) adalah salah satu novel remaja Arie Saptaji yang begitu saya tahu diterbitkan oleh salah satu penerbit besar, yang telah menolak naskah saya berkali-kali, membuat saya bergegas terbang untuk membelinya. Alasannya sudah pasti; ingin mengetahui resep rahasia sang penulis hingga berhasil mencuri hati para editor di penerbitan itu. Kali ini, dalam acara Dialog Sastra, saya berkesempatan membagi apa yang saya anggap sebagai “resep rahasia” Arie Saptaji dalam menulis Warrior: Sepatu Untuk Sahabat.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
KAKEK OBAMA PERNAH MAIN CATUR BERSAMA UMAR KAYAM |
|
Oleh: Administrator
|
|
NAMANYA I Made Surjana. Ia pernah bekerja sebagai wartawan Tempo, Gatra dan RCTI. Lelaki asal Bali itu, kini menetap di Balikpapan dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tak banyak yang tahu kalau Made, cukup akrab dengan keluarga Obama. Bagaimana ceritanya? Berikut penuturan kepada Tribun Kaltim.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
Oleh: Khairunissa
|
Membaca novel sastra bagi sebagian besar anak muda mungkin membosankan, namun beruntung bagi saya yang dilahirkan dari seorang Ayah yang seniman dan pecinta karya sastra, sedari kecil sudah diajarkan bagaimana cara menikmatinya, tidak heran jika saya bisa menyukainya hingga saat ini.
Di beberapa media, ulasan mengenai “Perfume” karya Patrick Suskind memang fenomenal, dari beberapa blog yang pernah saya baca di internet, banyak komentator yang menilai, novel tersebut sebagai sebuah karya sastra genius.
Ketertarikan saya dengan novel ini, bermula dari sebuah artikel di harian Kompas edisi Minggu setahun yang lalu. Ketika itu disebutkan “Perfume” telah membuat kagum kritikus sastra di Amerika dan Eropa, terjual lebih dari 15 juta kopi, dan menyebutnya sebagai novel bestseller sepanjang 2007.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
Menuai Hubungan Baru Islam dan Tionghoa |
|
Oleh: Slamet Thohari
|
|
Ungkapan “mayoritas adalah paling berprioritas” mungkin telah menemukan wujud paling nyata dalam perkembangan masyarakat Indonesia. Khususnya pada masa Orde Baru, ungkapan tersebut sepertinya menjadi justifikasi atas sikap “mencak-mencak”-nya mayoritas dalam perebutan makna atas Indonesia.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
"Sayangnya, novel ini pun sarat&n...
Character problem. empty comment
wuih...mantap nih tulisannya... dan j...